Krisnina Maharani, Istri Akbar Tandjung (istri mantan Menteri Sekretaris Negara masa orde baru , Akbar Tanjung) sedang membuat film dokumenter tentang sungai Bengawan Solo dan Canthik Perahu Rajamala.  Canthik  adalah pusaka milik Keraton Surakarta Jawa Tengah ini berbentuk perahu besar.

Menurut Serat Babad Sangkala ciri 220 CA di Sasana pustaka Keraton Surakarta, Rajamolo mempunyai legenda yang unik. Ketika menyusuri Bengawan Solo ditumpangi Sri Sunan Paku Buwono IV beserta kerabat dan nayaka praja selalu melantunkan nyanyian unik.

“Film dokumenter Rajamala ini saya buat untuk mengenang kisah masa lalu, agar masyarakat tidak lupa dengan sejarah bangsa. Sebagai peminat sejarah, saya prihatin banyak  sejarah masa lalu yang sudah dilupakan generasi muda,”paparnya ketika ditemui di rumahnya, kawasan Purnawarman, Jaksel, beberapa waktu yang lalu. Nina, demikian panggilannya menjelaskan bahwa Canthik Perahu Rajamala merupakan hiasan yang dipasang di ujung depan dan belakang perahu atas prakarsa Paku Buwono V saat masih menjadi putra mahkota. Canthik itu dibuat dari kayu jati yang diambil dari Donoloyo, hutan khusus milik Keraton Surakarta.

Dikisahkan pada 19 November 1809, Paku Buwana IV menerima hadiah dari Gubernur Jenderal William Daendels berupa perahu dengan canthik atau hiasan ujung perahu berupa perawan Belanda. Melihat keindahan perahu itu, Paku Buwana IV berkeinginan membuat perahu sejenis untuk dikawinkan dengan perahu tersebut. Paku Buwana IV lalu meminta putranya Pangeran Adipati Anom yang kemudian menjadi Paku Buwana V untuk membuat perahu dengan menggunakan kayu jati dari Hutan Donoloyo.

Setelah Perahu Kiai Rajamala yang berukuran 58,9 x 6,5 meter selesai dibuat, perahu persembahan Daendels dan Kiai Rajamala segera dinikahkan dengan upacara lengkap sebagaimana biasanya pernikahan seorang laki-laki dan seorang perempuan. Upacara itu dilaksanakan di Kedhung Penganten Bengawan Solo pada 19 Juli 1811. Kisah yang menyertai penciptaannya berasal dari peristiwa pelamaran Putri Bupati Cakraningrat di Sumenep, Madura oleh Paku Buwana IV. Transportasi saat itu lewat perairan dengan memakai perahu. Paku Buwana IV memilih ornamen Rajamala.

Pemilihan tokoh Rajamala untuk dijadikan canthik atau hiasan didasarkan atas kesaktian tokoh Raden Rajamala yang tak terkalahkan dalam kisah pewayangan. PB IV (1788-1820) menggunakan Rajamala menyusuri sungai Bengawan Solo hilir mudik ke Gresik sampai Madura untukmenjemput putri Pamekasan, Madura, untuk dilamar sebagai permaisuri. Perjalanan terakhir Rajamala ke tanah seberang dilakukan PB VII (1830-1858) saat menjemput putri dari Bangkalan, Madura, putri Sultan Tjakraningrat.

“Saya dan tim juga akan melakukan pengambilan gambar alur sungai Bengawan Solo yang menjadi rute Rajamala ke Madura. Penelusuran ini untuk napak tilas jalur sungai Bengawan Solo sebagai transportasi air saat itu,”ucapnya. (top/raden).

Sumber: http://topbintang.com/read/film-dokumenter-bengawan-solo-digarap-nina-akbar-tanjung

1 Comment
  1. hapsari putri 3 years ago

    baru tau kalo rajamala dibuat pada masa pakubuwono IV..tadinya saya hanya tau Pakubuwono IV banyak membuat karya sastra saja

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Log in with your credentials

Forgot your details?